TEMUAKATA.COM, MAKASSAR – Perdana Menteri Timor Leste Kay Rala Xanana Gusmao mendapat gelar kehormatan Honoris Causa dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Dalam orasi ilmiahnya, Xanana mengingatkan generasi muda agar tidak terlalu bergantung pada Google maupun Artificial Intelligence (AI).
Xanana menyampaikan hal tersebut usai menerima gelar Honoris Causa dalam acara yang digelar di Baruga Andi Pettarani Unhas, Sabtu (5/9/2026). Menurutnya, generasi muda harus tetap memiliki kemampuan untuk berpikir, meneliti, dan mencari solusi secara mandiri.
“Kita tidak butuh generasi muda jika mereka bergantung terlalu banyak pada Google dan AI. Karena mereka tidak akan menjadi mesin dan dari sana, dunia berkembang,” ujar Xanana kepada wartawan, Sabtu (5/9).
Xanana mengatakan Timor Leste membutuhkan generasi muda yang cerdas dan memiliki kemauan untuk terus belajar. Menurutnya, para pemimpin dunia lahir dari generasi yang mau meneliti, mencari jawaban, serta berusaha memahami berbagai persoalan.
“Itulah sebabnya, berbicara tentang pemimpin dunia, mereka berasal dari generasi muda yang meneliti, mencari, dan mencoba memahami semua masalah ini,” katanya.
Dia pun mengapresiasi Unhas yang dinilainya tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk berpikir dan melakukan penelitian. Menurut Xanana, kemampuan tersebut penting untuk melahirkan pemimpin yang mampu menghadapi berbagai persoalan di masa depan.
“Saya menggambarkan perasaan terhadap Unhas dan universitas yang mengajarkan bagaimana orang berpikir, meneliti semua faktor, sains, alam, sosial. Pemimpin baru datang dari sana,” tuturnya.
Xanana menyebut pemberian gelar Honoris Causa tersebut bukan sekadar penghargaan. Baginya, gelar itu menjadi tanggung jawab besar untuk terus memperjuangkan kepentingan rakyat Timor Leste.
“Ini adalah tanggung jawab besar. Tanggung jawab besar dalam arti bahwa seperti yang sudah sering saya katakan, pahlawan sejati adalah rakyat kita. Tidak ada lagi pahlawan di barat; pahlawan adalah rakyat Timor Leste,” tegas Xanana.
Memasuki 24 tahun kemerdekaan Timor Leste, Xanana mengakui masih banyak persoalan yang harus diselesaikan, termasuk kemiskinan. Dia menilai kondisi tersebut menjadi amanat bagi pemerintah untuk terus bekerja meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Setelah 24 tahun merdeka, kita masih melihat kemiskinan, kita masih melihat banyak sekali masalah yang dihadapi rakyat kita. Itulah sebabnya tanggung jawab ini adalah semacam amanat,” ucapnya.
Sementara itu, Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa mengatakan perkembangan AI tidak seharusnya membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir. Menurutnya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, namun manusia tetap harus memiliki kemampuan dan karakter sendiri.
“Saya kira ini kesimpulan yang luar biasa. AI ada, tapi itu bukanlah segalanya. Bisa kita gunakan, tapi kita harus menjadi diri sendiri,” kata Prof Jamaluddin.
Promotor Xanana Gusmao, Prof Hafid Abbas, menjelaskan terdapat empat alasan utama Unhas memberikan gelar Honoris Causa kepada Xanana. Pertama, Xanana dinilai sebagai simbol perjuangan sekaligus tokoh penting dalam proses lahirnya Timor Leste.
“Xanana dipandang bukan hanya sebagai saksi sejarah, melainkan arsitek utama yang memimpin rakyatnya melewati masa-masa sulit menuju kemerdekaan Timor Leste,” ujar Hafid.
Alasan kedua, Xanana dinilai berperan sebagai jembatan rekonsiliasi dan perdamaian. Ia disebut mampu mengubah luka akibat konflik menjadi hubungan yang saling menghormati antara Timor Leste dan Indonesia.
“Xanana memilih jalan memaafkan tanpa melupakan, serta membangun kemitraan yang harmonis bersama para pemimpin Indonesia,” katanya.
Poin ketiga, Xanana dinilai berhasil bertransformasi dari seorang pejuang menjadi negarawan. Setelah Timor Leste merdeka, dia disebut aktif membangun institusi negara, memperkuat demokrasi, serta memperjuangkan kedaulatan negaranya melalui jalur hukum dan diplomasi.
Terakhir, Xanana dinilai mewariskan nilai perdamaian dan kemanusiaan. Keberanian yang dipadukan dengan sikap rendah hati dinilai sejalan dengan misi Unhas dalam membangun ilmu pengetahuan, keadilan, dan peradaban.
Melalui penganugerahan gelar tersebut, Unhas berharap hubungan Indonesia dan Timor Leste semakin erat. Khususnya melalui kerja sama di bidang pendidikan, keilmuan, perdamaian, dan pembangunan kedua negara.








