TEMUKATA.COM,MAKASSAR — Rebana terdengar di Menara Pinisi Universitas Negeri Makassar, Senin (21/9/2026).
Sekitar 100 orang berjalan bersama seorang akademisi yang hari itu membawa berkas pendaftaran bakal calon Rektor UNM periode 2027-2031.
Namanya Dr. Arifin Manggau.
Di antara rombongan itu ada guru besar, dosen, tenaga kependidikan, alumni, seniman, budayawan, wartawan hingga sejumlah tokoh masyarakat. Mereka mengantar Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNM tersebut menuju sekretariat Panitia Pemilihan Rektor.
Arifin menyerahkan berkas tepat pukul 11.21 WITA.
Ia kemudian menjelaskan sendiri makna angka tersebut. Sebelas merujuk nomor kendaraan Rektor UNM. Sementara 21 ia maknai sebagai simbol perjalanan dari posisi “orang kedua” menuju “orang pertama”.
Tetapi perjalanan Arifin menuju titik itu tidak berlangsung sehari.
Lahir di Ujungpandang, 2 April 1974, Arifin merupakan alumnus Program Studi Sendratasik UNM pada 1999. Dua tahun kemudian ia menyelesaikan pendidikan magister bidang Pendidikan Antropologi di UNM.
Perjalanannya berlanjut ke Universitas Negeri Semarang. Pada 2015-2018 ia menyelesaikan pendidikan doktoral Pendidikan Seni.
Dunia seni dan pendidikan kemudian menjadi dua jalur yang terus berjalan bersamaan.
Sejak 2006, Arifin menjadi dosen di UNM, khususnya pada bidang Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik. Ia kemudian dipercaya menempati berbagai posisi kelembagaan.
Mulai dari staf ahli Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum dan Media Pembelajaran, hingga Kepala Pusat KKN dan Pemberdayaan Masyarakat.
Di luar struktur birokrasi kampus, aktivitasnya juga bersinggungan dengan dunia seni dan kebudayaan.
Ia menjadi pembina sejumlah organisasi mahasiswa, terlibat dalam organisasi pendidikan seni, menjadi asesor Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan, hingga akhirnya dipercaya memimpin Dewan Kesenian Sulawesi Selatan.
Kini ia berdiri di salah satu persimpangan penting dalam perjalanan kariernya: pemilihan Rektor UNM.
Arifin mengatakan keputusan maju bukan semata-mata berasal dari dirinya.
Dukungan datang dari internal UNM maupun kalangan di luar Fakultas Seni dan Desain.
Sejumlah dosen FSD, termasuk Prof. Heryati Yatim, Dr. Syakhruni, Dr. Andi Baetal Mukaddas, Dr. Irfan Arifin dan Dr. Aswar, ikut mendampinginya saat pendaftaran.
Ada pula seniman dan budayawan Sulsel seperti Andi Mahrus Andis dan Yudhistira Sukatanya. Mantan Komandan Satuan Brimob Sulsel Brigjen Pol (Purn) Dr. Adeni Muhan turut hadir.
Arifin membawa tagline “Sama-sama ki.”
Kalimat itu menjadi semacam benang merah yang menghubungkan latar belakangnya sebagai akademisi, pekerja seni dan pejabat kampus.
Ia mengatakan ingin mengurangi sekat antarfakultas dan tidak membentuk tim sukses.
Bukan berarti ia datang tanpa gagasan.
Sebaliknya, salah satu kata yang paling sering ia gunakan adalah “inovasi”.
Ia menunjuk pengalamannya ketika menjadi Kepala Pusat KKN. Saat itu ia mengembangkan model laporan KKN berbasis artikel.
Dari sepuluh program kerja mahasiswa di daerah, satu program dipilih untuk dikembangkan menjadi artikel.
Bagi Arifin, KKN tidak berhenti pada aktivitas pengabdian. Ada pengetahuan yang harus ditinggalkan, ada tulisan yang harus lahir.
“Secara tidak langsung mahasiswa kita selain ber-KKN melakukan kerjanya, juga belajar menulis artikel,” ujarnya.
Kini, gagasan yang sama ia bawa ke arena yang lebih besar.
Jika terpilih, Arifin mengatakan tidak akan menghapus begitu saja program yang telah dibangun rektor-rektor sebelumnya.
Ia ingin melanjutkan yang sudah ada, lalu menambahkan inovasi.
Dari seni, pendidikan, KKN hingga birokrasi universitas, perjalanan itu akhirnya sampai pada pukul 11.21.
Dari “orang kedua” menuju “orang pertama”, dalam istilah Arifin.
Tetapi ia memilih memulai perjalanan itu dengan dua kata yang terdengar sederhana:
Sama-sama ki.(#)








