Rumah Ingatan, Ketika Para Seniman Membayangkan Makassar sebagai Panggung Bersama

Avatar photo

- Penulis

Rabu, 29 Juli 2026 - 13:44 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAKASSAR,TEMUKATA.COM — Sebuah rumah panggung sederhana di kawasan Antang menjadi titik awal lahirnya sebuah gagasan yang mungkin terdengar ambisius. Bukan sekadar membuat pertunjukan seni, melainkan membayangkan sebuah ruang di mana rumah-rumah warga, lorong, pepohonan, bunyi angin, hingga percakapan sehari-hari menjadi bagian dari sebuah karya.

Gagasan itu mengemuka dalam sesi diskusi Jumpa SEMALAM (Selasa Malam) yang digelar Sanggar Merah Putih Makassar (SMPM), Selasa (28/7/2026), di Rumah Kecil Antang. Bertajuk “Sharing Gagasan Artistik Penyaji Rumah Ingatan”, forum tersebut mempertemukan sejumlah seniman lintas disiplin untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan baru dalam menciptakan karya yang berakar pada ruang hidup masyarakat.

 

Direktur Artistik SMPM, Irwan AR, mengatakan diskusi tersebut sengaja tidak diarahkan untuk melahirkan konsep yang seragam. Sebaliknya, setiap seniman diberi kebebasan menyampaikan cara pandangnya terhadap Rumah Ingatan sebagai ruang artistik yang terus bertumbuh.

 

“Yang kami bangun bukan proyek yang selesai dalam satu malam. Rumah Ingatan adalah proses. Ia akan berkembang dari pertemuan ke pertemuan, dari percakapan ke percakapan, dari karya ke karya,” ujarnya.

 

Menurut Irwan, forum itu tidak mengejar kesimpulan. Yang ingin dirawat justru keberanian untuk mengajukan pertanyaan baru tentang bagaimana seni dapat hadir lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

 

Salah satu gagasan datang dari maestro teater dan penyair Asia Ramli Prapanca. Baginya, setiap karya yang kuat selalu bertolak dari akar kebudayaan.

 

“Saya banyak dipengaruhi kampung halaman, laut, sarung, dan ibu. Di situlah akar saya sebagai seniman,” katanya.

 

Asia melihat Rumah Ingatan sebagai ruang yang memungkinkan seniman kembali berdialog dengan lingkungan tempat mereka berasal. Ia bahkan membayangkan pepohonan di sekitar Rumah Kecil tidak hanya menjadi latar, melainkan bagian dari bahasa artistik pertunjukan.

Baca Juga :  Hari Kebangkitan Nasional ke-118 di Makassar, Aliyah Mustika Ilham Tegaskan Semangat Gotong Royong

 

“Bisa jadi nanti pohon-pohon itu bukan sekadar objek. Mereka ikut berbicara melalui karya,” ujarnya.

 

Pandangan berbeda disampaikan sutradara teater sekaligus pendiri Rombongan Sandiwara Petta Puang, Bahar Merdhu. Ia berharap Rumah Ingatan tidak berhenti menjadi ruang berkumpul komunitas seni, tetapi mampu melibatkan masyarakat sekitar secara langsung.

 

Menurut Bahar, keberadaan Lorong 100 yang berada di sekitar Rumah Kecil memiliki potensi menjadi bagian dari pertunjukan. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga subjek yang ikut menghidupkan karya.

 

“Kalau kesenian bisa memberi dampak kepada lingkungan sekitar, itu jauh lebih menarik. Rumah Ingatan sebaiknya tidak hanya terjadi di dalam Rumah Kecil, tetapi juga menyebar ke lorong-lorong dan kehidupan warga,” katanya.

 

Seniman Yudistira menawarkan kemungkinan lain. Ia mempertanyakan batas-batas ruang dalam proyek tersebut.

 

“Apakah Rumah Kecil hanya dimaknai sebagai ruang fisik? Atau justru bisa melampaui itu melalui ruang virtual?” ujarnya.

 

Bagi Yudistira, Rumah Ingatan tidak semestinya dipahami hanya sebagai upaya mengenang masa lalu. Ingatan, katanya, juga dapat menjadi cara membayangkan masa depan.

 

Gagasan yang paling eksperimental datang dari komposer Maskur Alief Dg Esa. Ia membayangkan seluruh kawasan Rumah Kecil Antang sebagai ruang pertunjukan yang hidup melalui bunyi.

 

Dalam bayangannya, konsep panggung prosenium—yang memisahkan penampil dan penonton—ditinggalkan. Sebagai gantinya, penonton dapat bergerak bebas, sementara bunyi hadir dari berbagai arah.

 

Maskur menyebut pendekatan itu sebagai soundscape, yakni lanskap bunyi yang dibangun dari berbagai unsur ruang.

Baca Juga :  Kodam Hasanuddin Gelar Nobar Piala Dunia di Makassar, Warga Dapat 200 Paket Sembako hingga Doorprize

 

“Bukan hanya musik yang terdengar. Suara angin, dedaunan, aktivitas warga, langkah kaki, bahkan rumah-rumah di sekitar bisa menjadi bagian dari komposisi,” katanya.

 

Ia berharap proyek tersebut kelak mampu memperluas ruang pertunjukan hingga keluar dari halaman Rumah Kecil.

 

“Rumah Ingatan tidak hanya bergema di dalam rumah ini. Ia harus terdengar sampai ke lingkungan sekitar.”

 

Gagasan Rumah Ingatan sendiri pertama kali diperkenalkan oleh anggota DPRD Kota Makassar Andi Makmur Burhanuddin. Ia mengatakan ide itu muncul setelah melihat bagaimana Adi Rucil membangun Rumah Kecil sebagai ruang yang menyatu dengan alam dan kehidupan masyarakat.

 

Dari kebiasaan berkumpul setiap Selasa malam, muncul keinginan menjadikan tempat tersebut sebagai laboratorium artistik yang menghadirkan para maestro seni untuk menciptakan karya-karya baru.

 

“Saya membayangkan Rumah Kecil menjadi titik awal. Para seniman datang bukan sekadar mementaskan karya yang sudah jadi, tetapi menciptakan karya yang lahir dari ruang ini bersama masyarakat,” kata AMB.

 

Gagasan tersebut mendapat sambutan positif dari pengurus Sanggar Merah Putih Makassar dan menjadi salah satu agenda yang akan terus dikembangkan melalui Jumpa SEMALAM.

 

Di penghujung diskusi, tidak ada rancangan final yang disepakati. Tidak ada jadwal pasti kapan Rumah Ingatan akan dipentaskan. Yang tersisa justru deretan kemungkinan: pohon yang menjadi aktor, lorong yang berubah menjadi panggung, bunyi-bunyian yang menyusup dari rumah-rumah warga, serta ingatan yang tidak lagi dipahami sebagai masa lalu semata, melainkan sebagai cara membayangkan masa depan.(#)

Follow WhatsApp Channel temukata.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Turis Mancanegara Antusias Ikuti Prosesi Annyorong Lopi, Pinisi Bulukumba Siap Berlayar ke Labuan Bajo
Peringati Hari Kebudayaan Nasional, The Legend 120 Mengajak Pemuda Makassar: Hentikan Perang Kelompok, Bumikan Siri’ Na Pacce!
Road to Give 2026 di Makassar : Lari 10K Sekaligus Galang Bantuan Air Bersih
HUT TNI ke-81, Yonif 725/Woroagi Makan Bersama Warga Papua
Momentum Bersejarah, HMTI Institut Hasan Sulur Resmi Lahir dan Siap Bangun Jejaring Nasional
Dugaan Ada Penggelapan Pajak PT Catur, Praktisi Hukum Desak Kejati Sulsel Turun Tangan
IKA ISMEI Sulselbartra Tantang Kapolda Sulsel Baru, Penanganan Konkrit Perang Kelompok di Makassar
Diduga Belum Terverifikasi di SPIONAM, Aktivitas Angkut Ore Nikel di Jetty PT AMI Disorot HMI Kolaka

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 02:12 WITA

Turis Mancanegara Antusias Ikuti Prosesi Annyorong Lopi, Pinisi Bulukumba Siap Berlayar ke Labuan Bajo

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:26 WITA

Peringati Hari Kebudayaan Nasional, The Legend 120 Mengajak Pemuda Makassar: Hentikan Perang Kelompok, Bumikan Siri’ Na Pacce!

Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:48 WITA

Road to Give 2026 di Makassar : Lari 10K Sekaligus Galang Bantuan Air Bersih

Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:12 WITA

HUT TNI ke-81, Yonif 725/Woroagi Makan Bersama Warga Papua

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:07 WITA

Momentum Bersejarah, HMTI Institut Hasan Sulur Resmi Lahir dan Siap Bangun Jejaring Nasional

Berita Terbaru