TEMUKATA.COM, MAKASSAR — Maraknya aksi kriminalitas jalanan seperti geng motor, tawuran antarpelompok, penganiayaan, hingga penggunaan senjata tajam yang kerap meresahkan warga di sejumlah wilayah Kota Makassar kembali menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan masyarakat. Perhatian serius ini mengemuka menyusul masih maraknya potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang tercatat terjadi pada rentang waktu dini hari yang krusial, di mana sebagian besar warga sedang beristirahat. Kondisi ini dikhawatirkan dapat meluas dan menciptakan iklim psikologis yang tidak kondusif, sehingga memicu rasa takut serta kecemasan di tengah masyarakat luas yang mendambakan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari.
Menanggapi situasi tersebut, Founder sekaligus Ketua Umum Matadoor, Karaeng Emba, menegaskan bahwa negara melalui aparat penegak hukum memiliki kewajiban mutlak untuk memberikan perlindungan serta jaminan keamanan bagi setiap warga negaranya. Dalam keterangannya yang disampaikan saat diwawancarai di salah satu warung kopi di Kota Makassar, Karaeng Emba secara terbuka melontarkan kritik dan tantangan kepada pihak kepolisian agar tidak bersikap pasif dalam menyikapi eskalasi kejahatan jalanan ini. Pihaknya mengingatkan agar Polrestabes Makassar tidak menunggu jatuhnya korban jiwa atau viralnya sebuah kasus di media sosial baru kemudian mengerahkan langkah-langkah penegakan hukum yang masif.
Lebih lanjut, organisasi Matadoor menyoroti urgensi peningkatan efektivitas kesiapsiagaan aparat kepolisian dalam mengantisipasi potensi gangguan keamanan, khususnya pada jam-jam rawan yang teridentifikasi mulai pukul 00.00 hingga 05.00 WITA. Menurut Karaeng Emba, pola pengamanan dan patroli malam yang selama ini diterapkan perlu dievaluasi secara menyeluruh guna memastikan apakah langkah tersebut telah benar-benar menjangkau titik-titik rawan kriminalitas di berbagai sudut kota. Kehadiran fisik aparat di lapangan dinilai sangat krusial tidak hanya untuk menindak pelanggaran hukum, melainkan juga berfungsi sebagai instrumen pencegahan preventif yang efektif guna meredam niat para pelaku kejahatan jalanan sebelum mereka melancarkan aksinya.
Kendati demikian, pendekatan represif semata dinilai belum cukup untuk menyelesaikan akar permasalahan kriminalitas remaja dan geng motor secara tuntas dan berkelanjutan di Kota Makassar. Matadoor mendorong adanya sinergi lintas sektoral yang melibatkan unsur pemerintah daerah, institusi pendidikan, keluarga, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta berbagai elemen komunitas lokal untuk bersama-sama merumuskan ruang-ruang positif bagi generasi muda. Penyediaan wadah penyaluran energi positif bagi kalangan pemuda harus berjalan beriringan dengan penegakan hukum yang tanpa kompromi terhadap oknum-oknum yang terbukti melakukan tindak pidana kekerasan, sehingga efek jera dapat tercipta di tengah masyarakat.
Sebagai penutup, kritik dan desakan yang dilayangkan oleh Matadoor ini ditegaskan murni sebagai wujud fungsi kontrol sosial serta bentuk kepedulian yang mendalam terhadap stabilitas keamanan Kota Makassar. Pihak organisasi berharap agar jajaran Polrestabes Makassar dapat segera merespons tuntutan tersebut melalui langkah-langkah konkret yang dirasakan langsung dampaknya oleh warga, ketimbang sekadar melontarkan pernyataan normatif di ruang publik. Dengan kolaborasi yang solid antara aparat kepolisian dan partisipasi aktif masyarakat, ruang publik di Kota Makassar diharapkan dapat kembali steril dari ancaman teror geng motor, sehingga warga dapat beraktivitas dengan tenang tanpa dibayangi rasa takut.








