Polemik PSEL Makassar: Gelombang Penolakan Lokasi di Tamalanrea Terus Meluas

Avatar photo

- Penulis

Jumat, 12 Juni 2026 - 17:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Temukata.com, Makassar – Polemik rencana pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, terus bergulir. Setelah aksi demonstrasi yang dilakukan sejumlah warga di Kantor DPRD Sulawesi Selatan, gelombang penolakan kini ditunjukkan melalui pemasangan baliho dan spanduk bertuliskan “Tolak PSEL Tamalanrea” di sejumlah titik di kawasan tersebut.

Kemunculan baliho penolakan itu menunjukkan bahwa rencana pembangunan proyek strategis nasional tersebut masih menjadi perhatian serius masyarakat sekitar. Penolakan yang muncul tidak diarahkan pada program pengolahan sampah menjadi energi listrik itu sendiri, melainkan lebih kepada lokasi pembangunan yang dinilai berdekatan dengan kawasan permukiman.

Baca Juga :  BULOG Salurkan Bantuan 30 Kg Beras ke Warga Makassar

Ketua DPW Sarekat Hijau Sulawesi Selatan, Rizal Pauzi, mengatakan pemasangan baliho dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi sekaligus upaya mengedukasi masyarakat mengenai berbagai aspek yang perlu diperhatikan sebelum proyek dijalankan.

Menurut dia, pihak pengembang, yakni PT SUS Shanghai Holding Limited bersama konsorsium Shanghai SUS Environment Co. Ltd dan PT Grand Puri Indonesia, perlu membuka secara transparan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) maupun Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin).

“Kami memasang baliho ini untuk mengedukasi masyarakat. Dokumen Amdal PSEL harus disosialisasikan secara luas kepada masyarakat Tamalanrea. Selain itu, persoalan Andalalin juga penting karena kita belum mengetahui bagaimana rute armada pengangkut sampah nantinya. Jangan sampai ketika beroperasi justru menimbulkan kemacetan yang semakin parah,” ujar Rizal, Kamis (12/6/2026).

Kekhawatiran serupa disampaikan Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Hasanuddin, Engki Fatiawan. Ia menilai pembangunan fasilitas PSEL di Tamalanrea perlu dikaji lebih mendalam mengingat lokasinya berada tidak jauh dari kawasan permukiman warga.

Baca Juga :  Diduga Belum Terverifikasi di SPIONAM, Aktivitas Angkut Ore Nikel di Jetty PT AMI Disorot HMI Kolaka

“Kami dari IMM Unhas menolak apabila PSEL dibangun di Kecamatan Tamalanrea karena lokasi pembangunan sangat dekat dengan permukiman masyarakat,” kata Engki.

Ia menjelaskan, potensi penurunan kualitas udara, munculnya bau tidak sedap akibat proses insinerasi maupun mobilisasi truk pengangkut sampah menjadi kekhawatiran yang perlu mendapat perhatian. Selain itu, pengelolaan air limbah dan air lindi juga dinilai harus dipastikan memenuhi standar agar tidak berdampak terhadap kualitas air tanah yang dimanfaatkan masyarakat.

“Apalagi jika instalasi pengolahan air limbah tidak dikelola dengan baik. Karena itu, pemerintah bersama PT SUS perlu meninjau lebih jauh dampak biofisik lingkungan dan memperhatikan persepsi masyarakat sekitar lokasi kegiatan,” ujarnya.

Dukungan terhadap penolakan lokasi pembangunan juga datang dari warga. Seorang ibu rumah tangga yang berdomisili di kawasan Mula Baru, Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea, mengaku sebagian besar warga di wilayahnya memiliki kekhawatiran yang sama.

“Samaji dek, kami warga di sini juga menolak. Hampir semua warga Mula Baru tidak setuju kalau PSEL dibangun di sini,” ujar perempuan yang enggan disebutkan namanya.

Sebelumnya, tujuh organisasi yang tergabung dalam Aliansi Kawal PSEL Makassar telah menyatakan penolakan terhadap rencana pembangunan fasilitas tersebut di Tamalanrea. Organisasi yang tergabung dalam aliansi itu antara lain PB Pemuda Muslimin Indonesia, Profetik Institute, Sarekat Hijau Indonesia Sulsel, SEMMI Sulsel, Republik Hijau, TABIR Squad, dan IMM Universitas Hasanuddin.

Mereka menilai lokasi pembangunan perlu dievaluasi kembali dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, tata ruang, serta dampak sosial yang mungkin timbul di masa mendatang.

Meski demikian, aliansi menegaskan bahwa penolakan yang mereka sampaikan bukan ditujukan terhadap program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik sebagai bagian dari upaya penanganan persoalan sampah nasional. Mereka menilai program tersebut penting, namun pemilihan lokasi pembangunan perlu dikaji secara lebih komprehensif demi menjamin keamanan, kesehatan, dan kenyamanan masyarakat.

Sebagaimana diketahui, PSEL merupakan program nasional yang bertujuan mengurangi timbunan sampah di kota-kota besar melalui teknologi waste to energy, yakni mengolah sampah menjadi sumber energi listrik dengan teknologi modern yang ramah lingkungan. Program tersebut diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan darurat sampah sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih berkelanjutan.

Editor : Arman

Follow WhatsApp Channel temukata.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Turis Mancanegara Antusias Ikuti Prosesi Annyorong Lopi, Pinisi Bulukumba Siap Berlayar ke Labuan Bajo
Peringati Hari Kebudayaan Nasional, The Legend 120 Mengajak Pemuda Makassar: Hentikan Perang Kelompok, Bumikan Siri’ Na Pacce!
Road to Give 2026 di Makassar : Lari 10K Sekaligus Galang Bantuan Air Bersih
HUT TNI ke-81, Yonif 725/Woroagi Makan Bersama Warga Papua
Dugaan Ada Penggelapan Pajak PT Catur, Praktisi Hukum Desak Kejati Sulsel Turun Tangan
IKA ISMEI Sulselbartra Tantang Kapolda Sulsel Baru, Penanganan Konkrit Perang Kelompok di Makassar
Diduga Belum Terverifikasi di SPIONAM, Aktivitas Angkut Ore Nikel di Jetty PT AMI Disorot HMI Kolaka
DPO Narkoba Meninggal Usai Ditangkap, LKBHMI Desak Kapolri Copot Kapolda Sulsel

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 02:12 WITA

Turis Mancanegara Antusias Ikuti Prosesi Annyorong Lopi, Pinisi Bulukumba Siap Berlayar ke Labuan Bajo

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:26 WITA

Peringati Hari Kebudayaan Nasional, The Legend 120 Mengajak Pemuda Makassar: Hentikan Perang Kelompok, Bumikan Siri’ Na Pacce!

Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:48 WITA

Road to Give 2026 di Makassar : Lari 10K Sekaligus Galang Bantuan Air Bersih

Kamis, 8 Oktober 2026 - 22:12 WITA

HUT TNI ke-81, Yonif 725/Woroagi Makan Bersama Warga Papua

Minggu, 4 Oktober 2026 - 18:57 WITA

Dugaan Ada Penggelapan Pajak PT Catur, Praktisi Hukum Desak Kejati Sulsel Turun Tangan

Berita Terbaru