TEMUKATA.CO..,Makassar — Memasuki Agustus 2026, BEM FISEH UCM mengajak seluruh elemen masyarakat Kota Makassar, khususnya mahasiswa, untuk menjadikan berbagai peristiwa pada Agustus 2025 sebagai bahan refleksi bersama.
Setahun berlalu, tetapi sejumlah catatan dari momentum tersebut dinilai penting untuk menjadi pelajaran dalam menjaga demokrasi dan ruang penyampaian aspirasi.
Presiden BEM FISEH UCM, Anugrah Usman, menegaskan bahwa refleksi terhadap Agustus 2025 bukan berarti melemahkan gerakan mahasiswa. Justru, menurutnya, mahasiswa harus semakin matang dalam membaca situasi dan memastikan setiap perjuangan tetap berpijak pada kepentingan masyarakat.
“Kita tidak ingin Agustus 2025 hanya menjadi ingatan, tetapi harus menjadi pelajaran. Hari ini kita kembali berada di momentum yang sama, sehingga mari kita belajar dari apa yang telah terjadi. Aspirasi harus tetap disuarakan, kritik harus tetap hidup, tetapi jangan sampai kita mudah terprovokasi oleh situasi yang justru menjauhkan kita dari substansi perjuangan,” ujar Anugrah Usman.
Sementara itu, Menteri Kajian Aksi dan Isu Strategis BEM FISEH UCM, Akbar Abu Basir, mengingatkan bahwa setiap elemen yang turun menyampaikan aspirasi perlu memahami posisi dan tanggung jawabnya. Menurutnya, gerakan mahasiswa harus mampu membedakan antara keberanian menyampaikan kritik dengan tindakan yang berpotensi memperkeruh keadaan.
“Mahasiswa harus tetap menjadi kelompok yang kritis, tetapi juga rasional. Jangan sampai provokasi membuat kita kehilangan fokus terhadap isu yang sedang diperjuangkan. Kita harus mampu menjaga barisan, mengawal aspirasi, sekaligus memastikan ruang demokrasi tetap aman dan kondusif,” kata Akbar Abu Basir.
BEM FISEH UCM mengajak seluruh elemen mahasiswa dan masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi serta tidak terpancing oleh tindakan yang dapat memicu kericuhan.
Refleksi terhadap Agustus 2025, menurut BEM FISEH UCM, harus menjadi momentum untuk membangun budaya demokrasi yang lebih dewasa: berani bersuara tanpa harus melakukan kekerasan, kritis tanpa kehilangan kendali, serta tegas dalam menyampaikan tuntutan tanpa mudah dipengaruhi provokasi.
“Kita tidak sedang melupakan Agustus 2025. Kita sedang belajar darinya agar Agustus 2026 tidak mencatat luka yang sama,” tutup Anugrah Usman.








