Dari Merauke ke Makassar, Perjalanan PT. BIA Mencari Formula Ekonomi Sirkular untuk Diadaptasi

Catatan Perjalanan Organic Insight Menuju Papua Selatan yang Bersih

- Penulis

Sabtu, 2 Mei 2026 - 22:40 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim PT Bio Inti Agrindo bersama tim fasilitator Klikhijau dalam rangkaian Organic Insight Field Trip di Makassar. (Foto: Ist)

Tim PT Bio Inti Agrindo bersama tim fasilitator Klikhijau dalam rangkaian Organic Insight Field Trip di Makassar. (Foto: Ist)

Makassar – Peta industri global saat ini, sampah tidak lagi dipandang sebagai titik akhir dari rantai konsumsi yang harus disembunyikan di balik gundukan tanah. Sebaliknya, sampah organik kini bertransformasi menjadi aset strategis yang menentukan keberlanjutan sebuah korporasi.

Bagi agroindustri terbesat yang beroperasi di ujung timur Indonesia, PT Bio Inti Agrindo (PT BIA), paradigma tersebut bukan sekadar wacana di ruang rapat, melainkan sebuah komitmen yang dijemput hingga ke pesisir Sulawesi.

Melalui kolaborasi strategis dengan Klikhijau, perusahaan yang berbasis di Merauke ini menempuh perjalanan ribuan kilometer menuju Makassar.

Misi mereka satu, membedah potensi ekonomi dan ekologi di balik tumpukan limbah organik melalui program bertajuk Organic Insight Field Trip. Selama enam hari, dari 26 April hingga 1 Mei 2026, tim lintas departemen PT BIA melakukan eksplorasi mendalam untuk mencari formula terbaik dalam pengelolaan limbah terintegrasi.

Baca Juga :  Dua Dekade Bakti Prof Ismail, Dianugerahi Satyalancana Karya Satya dari Presiden

Sebagai perusahaan dengan skala operasional masif yang mempekerjakan ribuan personel, PT BIA menghadapi tantangan klasik industri berbasis lahan, volume sampah domestik dan sisa produksi yang sangat besar.

Di Merauke, infrastruktur pengolahan sampah organik terpadu masih menjadi barang langka. Padahal, tuntutan global terhadap standar Environmental, Social, and Governance (ESG) serta kepatuhan terhadap Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) semakin ketat.

Langkah PT BIA terjun langsung ke Makassar adalah pilihan taktis. Makassar dalam satu dekade terakhir telah berevolusi menjadi hub inovasi pengelolaan sampah berbasis komunitas dan teknologi tepat guna di Indonesia Timur.

“Tantangan industri masa depan bukan lagi soal berapa banyak yang bisa diproduksi, tapi seberapa bersih proses itu berjalan dan bagaimana sisa produksi dikonversi menjadi nilai tambah. Kami mengajak tim PT BIA melihat model yang paling adaptif untuk diterapkan di area operasional mereka di Papua Selatan,” ujar Anis Kurniawan, Direktur Klikhijau.

Baca Juga :  Geruduk Kejati Sulsel, Mahasiswa dan Rakyat bersatu pertanyakan integritas penanganan kasus Fee Rp. 6 M Sabbang - Tallang Kab. Luwu Utara

Tim PT BIA pada perjalanan kali ini dipimpin oleh Mr. Jeong Kiwon, bersama Bayu Anang Setiawan, Putra Rama Pradana Dahlan, dan Maftuh Indra Pramana, bergerak melintasi spektrum pengelolaan sampah yang luas, mulai dari ruang birokrasi hingga gang-gang sempit pemukiman padat.

Perjalanan dimulai pada Senin, 27 April 2026, di Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku. Di sini, narasi dimulai dari hal yang paling mendasar: budaya organisasi. Melalui konsep Eco Office, tim mempelajari bahwa keberhasilan pengelolaan lingkungan di level industri harus dimulai dari disiplin meja kerja. Pemilahan sampah dari sumbernya bukan hanya soal teknis, melainkan soal kepemimpinan dan habituasi staf.

Fokus kemudian bergeser ke Kawasan Industri Makassar (KIMA). Di lokasi ini, aspek teknologi biologi mengambil panggung utama melalui pemanfaatan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau yang lebih dikenal dengan sebutan maggot.

Eksplanasi teknisnya sederhana namun revolusioner, maggot mampu mereduksi sampah organik hingga 80% dalam waktu singkat.

Namun yang menarik bagi sektor agroindustri seperti PT BIA adalah produk turunannya. Maggot kering mengandung protein tinggi yang sangat potensial sebagai pakan ternak atau ikan. Ini adalah model ekonomi sirkular yang sempurna, limbah domestik dari barak pekerja atau limbah organik perkebunan bisa dikonversi menjadi unit bisnis baru yang menopang kemandirian pangan di area operasional perusahaan.

Baca Juga :  Rupiah Tembus Rekor Terburuk Sejarah di Level Rp17.600, Pemerintah Siapkan Intervensi Pasar

Menyentuh Akar Sosial dan Kesadaran Ekologis, Pada Selasa, 28 April, perjalanan berlanjut ke wilayah pinggiran Makassar yang sarat akan nilai-nilai edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Pengelolaan sampah bagi perusahaan besar seringkali gagal jika tidak melibatkan aspek sosiologis manusia di dalamnya.

Tim mengunjungi berbagai komunitas pengelola bank sampah dan pusat edukasi lingkungan. Di sini, pesan yang ditangkap sangat jelas, teknologi secanggih apa pun tidak akan berkelanjutan tanpa adanya narasi sosial yang kuat. Bagi PT BIA, ini adalah pelajaran berharga untuk diaplikasikan dalam membina hubungan dengan masyarakat lokal di sekitar perkebunan mereka di Papua Selatan.

Bagaimana sampah bisa menjadi alat pemersatu yang memberikan manfaat ekonomi langsung kepada komunitas, bukan menjadi sumber konflik lingkungan.

Ekonomi sirkular, dari limbah menjadi berkah, memasuki hari-hari berikutnya, Organic Insight Field Trip mengeksplorasi teknik komposting canggih dan integrasi pertanian perkotaan. Tim melihat bagaimana sisa makanan dari dapur umum bisa kembali ke tanah sebagai nutrisi tanaman, yang kemudian menghasilkan bahan pangan berkualitas.

Bagi PT BIA, penerapan model ini di Merauke bukan hanya soal menjaga kebersihan lingkungan. Secara finansial, pengolahan limbah organik di lokasi (on-site) akan memangkas biaya logistik pengangkutan sampah secara signifikan. Secara ekologis, langkah ini akan menekan emisi gas metana dari tumpukan sampah yang membusuk, yang secara otomatis meningkatkan penerapan ESG.

Implementasi maggot dan komposting terintegrasi yang dipelajari di Makassar diharapkan menjadi pioneer project pertama di wilayah Papua Selatan. Jika berhasil, PT BIA tidak hanya akan menjadi produsen komoditas, tetapi juga pemimpin dalam inovasi lingkungan di wilayah timur Indonesia.

Komitmen yang melampaui standar, kegiatan yang berakhir pada 1 Mei 2026 ini menyisakan satu kesimpulan kuat, pengelolaan sampah organik adalah investasi, bukan beban biaya. Melalui proses kurasi informasi dan praktik lapangan bersama Klikhijau, tim PT BIA pulang ke Merauke dengan membawa prototipe kebijakan baru, timnya melihat bahwa kunci dari keberhasilan ini adalah integrasi. Menggabungkan antara teknologi biologi (BSF), disiplin manajerial (Eco Office), dan pemberdayaan sosial.
Langkah ini juga menjadi sinyal kuat bagi pelaku industri lainnya di Indonesia.

Di tengah ancaman krisis iklim, perusahaan-perusahaan besar dituntut untuk tidak lagi hanya menjadi penyumbang produk, tetapi juga menjadi pelindung ekosistem. PT BIA melalui inisiatif ini telah meletakkan batu pertama bagi pembangunan berkelanjutan yang sesungguhnya di tanah Papua.

Kini, tugas berat menanti di Merauke. Mentransformasi ilmu yang didapat dari Makassar menjadi aksi nyata di lapangan. Namun, dengan bekal Organic Insight yang komprehensif, perjalanan panjang dari Papua menuju Sulawesi ini dipastikan akan membuahkan hasil yang hijau bagi masa depan planet ini.

Penulis : AB

Editor : RTK

Follow WhatsApp Channel temukata.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menyiapkan Langkah Strategis KNPI Bontoala buat terobosan Pemuda dan Dorong Pemerintah Perkuat Peran Kepemudaan
Rupiah Tembus Rekor Terburuk Sejarah di Level Rp17.600, Pemerintah Siapkan Intervensi Pasar
Tuai Pro Kontra, Film Dokumenter ‘Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita’ Soroti Konflik Agraria Papua
Kemenkes Perkuat Skrining Ganda dan Siagakan 168 Rumah Sakit Rujukan Guna Mitigasi Hantavirus
Skandal Sabu di Rutan Kelas I Makassar, LKBHMI Bongkar Dugaan Kerja Sama Oknum Narapidana dan Petugas
Investasi Lingkungan di Ketinggian Pusdal LH Suma Hadirkan Infrastruktur Hijau untuk Bawakaraeng yang Lestari
Ada Apa dengan KONI Makassar?
Silaturahmi Kebangsaan ; The Legend 120 Sulsel Gelar Pertemuan di Kabupaten Gowa

Berita Terkait

Minggu, 17 Mei 2026 - 09:03 WITA

Menyiapkan Langkah Strategis KNPI Bontoala buat terobosan Pemuda dan Dorong Pemerintah Perkuat Peran Kepemudaan

Minggu, 17 Mei 2026 - 00:51 WITA

Rupiah Tembus Rekor Terburuk Sejarah di Level Rp17.600, Pemerintah Siapkan Intervensi Pasar

Sabtu, 16 Mei 2026 - 12:12 WITA

Kemenkes Perkuat Skrining Ganda dan Siagakan 168 Rumah Sakit Rujukan Guna Mitigasi Hantavirus

Jumat, 15 Mei 2026 - 14:47 WITA

Skandal Sabu di Rutan Kelas I Makassar, LKBHMI Bongkar Dugaan Kerja Sama Oknum Narapidana dan Petugas

Kamis, 14 Mei 2026 - 22:22 WITA

Investasi Lingkungan di Ketinggian Pusdal LH Suma Hadirkan Infrastruktur Hijau untuk Bawakaraeng yang Lestari

Berita Terbaru