JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatat rekor terburuk sepanjang sejarah dengan merosot tajam ke kisaran Rp17.596 hingga Rp17.614 per dolar AS. Level kejatuhan ini secara resmi telah melampaui titik terendah krisis moneter tahun 1998 yang kala itu berada di angka Rp16.800 per dolar AS.
Merespons situasi darurat ini, Presiden Prabowo Subianto langsung memanggil jajaran menteri bidang ekonomi, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ke Istana Kepresidenan guna merumuskan langkah taktis penyelamatan stabilitas moneter nasional.
Faktor Eksternal Jadi Pemicu Utama
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pelemahan tajam mata uang garuda didorong oleh kombinasi sentimen global yang masif. Eskalasi ketegangan geopolitik antara AS dan Iran memicu aksi buru aset aman (safe haven) oleh investor global, yang diperparah oleh lonjakan harga minyak dunia serta sentimen negatif rebalancing indeks MSCI yang memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik.
“Meskipun tekanan eksternal sangat kuat dan kurs telah melosot jauh dari asumsi APBN 2026 yang sebesar Rp16.500, kami menegaskan bahwa fundamental ekonomi riil Indonesia tetap kokoh. Sektor pangan dan energi kita dalam kondisi aman,” ujar Menkeu di Jakarta.
Sebagai langkah konkret, Menkeu menyatakan pemerintah siap melakukan intervensi langsung di pasar obligasi guna menahan kenaikan imbal hasil (yield) dan menjaga daya tarik investasi. Intervensi ini akan mengoptimalkan pemanfaatan sisa dana menganggur yang tersedia di APBN.
Di sisi riil, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mulai menyuarakan kekhawatiran serius. Mengingat sebagian besar industri nasional masih bergantung pada bahan baku impor, lonjakan kurs ini otomatis membengkakkan biaya produksi.
Apindo memperingatkan adanya potensi kenaikan harga barang di tingkat konsumen, fenomena penciutan ukuran produk (shrinkflation), hingga ancaman efisiensi ketat berupa pemutusan hubungan kerja (PHK) jika pelemahan ini berlangsung dalam jangka panjang. Bersamaan dengan ambruknya rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dilaporkan mengalami koreksi tajam akibat aksi jual massal oleh investor asing.
Pemerintah mengimbau pelaku usaha dan masyarakat luas untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan spekulatif terhadap dolar AS, mengingat komitmen penuh otoritas fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas makroekonomi nasional secara ketat dalam beberapa hari ke depan.






