Rupiah Tertekan di Rp17.849, Pasar Waspada Tren Pelemahan Lanjutan
Jakarta, – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah dan menyentuh level Rp17.849 per USD pada perdagangan hari ini, menurut data Wise dan Bank Indonesia. Level ini menjadi yang terlemah dalam sebulan terakhir, setelah sebelumnya stabil di kisaran Rp17.200-Rp17.849sepanjang mei 2026.

Sejak awal tahun 2026, rupiah telah melemah sekitar 6,9% dari posisi awal tahun di Rp16.691 per USD. Tekanan utama datang dari penguatan dolar AS global, keluarnya dana asing, dan sentimen pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed yang masih tinggi.
Faktor Pemicu Pelemahan
<1. Dolar AS Menguat Global: Investor global kembali memburu aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global.
2. Neraca Perdagangan : Defisit impor yang melebar membuat permintaan dolar meningkat.
3. Capital Outflow : Data pasar menunjukkan arus keluar modal asing dari pasar saham dan SBN.
“Level Rp17.800 ini belum masuk zona krisis, tapi jika tren ini berlanjut tanpa intervensi, psikologis pasar bisa terdorong ke Rp18.000,” ujar pengamat pasar uang di Jakarta.
Mungkinkah Tembus Rp20.000?
Secara historis, rupiah terakhir menyentuh Rp20.000 saat krisis moneter 1998. Para analis menilai skenario tembus Rp20.000 saat ini hanya terjadi jika ada guncangan ekstrem seperti resesi global, krisis komoditas, atau gejolak geopolitik besar.
Range realistis jangka pendek ada di Rp17.500-Rp18.200. Untuk ke Rp20.000, butuh shock sistemik yang belum terlihat saat ini,” jelas analis.
Adanya Dampak ke Masyarakat dan Pelaku Usaha Pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga barang impor, biaya produksi, dan cicilan utang luar negeri. Di sisi lain, eksportir dan pelaku usaha berorientasi dolar diuntungkan karena pendapatan dalam rupiah meningkat.
Bank Indonesia sejauh ini telah melakukan intervensi di pasar valas dan pasar SBN untuk menjaga stabilitas. Pasar kini menanti rilis data inflasi AS dan keputusan suku bunga The Fed pekan depan sebagai penentu arah rupiah selanjutnya.






