Oleh : Adi Zulkarnaen
( Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Universitas Negeri Makassar)
Temukata.com – Setiap 9 Juni, dunia memperingati Coral Triangle Day atau Hari Segitiga Karang. Momentum ini menjadi pengingat bahwa Indonesia bukan sekadar negara maritim, tetapi juga pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Bersama Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste, Indonesia berada di kawasan Segitiga Karang, wilayah yang hanya mencakup 1,5 persen dari luas lautan dunia tetapi menyimpan 76 persen spesies karang dan 37 persen spesies ikan karang global.
Di tengah luasnya laut Indonesia, terumbu karang sering dipandang hanya sebagai pemandangan indah atau destinasi wisata selam. Padahal, karang memiliki fungsi yang jauh lebih penting. Ia menjaga keseimbangan ekosistem laut, melindungi garis pantai, sekaligus menjadi sumber ekonomi bagi warga pesisir dan pulau-pulau kecil.
Terumbu karang bukan sekadar batuan laut berwarna-warni. Ia adalah fondasi kehidupan masyarakat pesisir. Dari sana, nelayan mendapatkan ikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pasar lokal. Pariwisata bahari berkembang. Penyewaan perahu, homestay, dan jasa wisata selam memberikan penghasilan tambahan. Ketika karang sehat, ekonomi warga ikut bergerak.
Namun, harapan itu kini terancam. Degradasi terumbu karang berlangsung cepat. KKP mencatat pada 2023, dari 2,5 juta hektare terumbu karang, hanya 6,39 persen berada dalam kondisi sangat baik, sementara 22,26 persen berada dalam kondisi buruk. Banyak karang retak, mati, atau kehilangan tutupan hidup. Kondisi ini memengaruhi hasil tangkapan nelayan dan pendapatan warga.
Penyebabnya beragam. Penangkapan ikan destruktif, pencemaran dari daratan, sedimentasi, pembangunan pesisir yang tidak terkendali, hingga pemanasan laut akibat perubahan iklim. Fenomena pemutihan karang (coral bleaching) semakin sering terjadi. NOAA melaporkan bahwa pada 2024, lebih dari 60 persen terumbu karang dunia mengalami tekanan panas yang cukup untuk memicu bleaching. Ketika karang rusak, ikan berkurang. Nelayan kehilangan penghasilan. Biaya operasional naik. Ketahanan pangan masyarakat pesisir terancam.
Dampak ekonomi juga terlihat di sektor pariwisata. Destinasi unggulan seperti Raja Ampat, Wakatobi, Bunaken, dan Kepulauan Derawan memperoleh daya tarik utamanya dari terumbu karang yang sehat. Ketika karang rusak, wisatawan enggan datang. Homestay sepi. Jasa perahu menurun. UMKM lokal kehilangan pembeli. Aktivitas ekonomi yang dulu hidup mulai tersendat.
Lebih dari itu, karang berfungsi sebagai benteng alami bagi pulau-pulau kecil. Ia menahan gelombang dan abrasi. Ia melindungi rumah warga dan infrastruktur. Ketika karang rusak, pemerintah harus mengeluarkan biaya besar untuk membangun pelindung pantai buatan. Dengan kata lain, degradasi terumbu karang juga meningkatkan beban fiskal negara.
Ironisnya, ancaman ini terjadi saat Indonesia mendorong ekonomi biru. Ekonomi biru hanya akan berhasil jika fondasi ekologisnya tetap utuh. Terumbu karang yang rusak berarti kehilangan modal ekonomi, pangan, dan kesempatan bagi warga pesisir. Kekayaan laut yang seharusnya menjadi penguat ekonomi bisa berubah menjadi bom waktu.
Coral Triangle Day harus menjadi pengingat. Menjaga terumbu karang bukan biaya tambahan. Ia adalah investasi jangka panjang. Rehabilitasi karang, penguatan kawasan konservasi, pengawasan praktik destruktif, pengendalian pencemaran, dan peningkatan kapasitas masyarakat harus menjadi prioritas.
Indonesia dianugerahi kekayaan terumbu karang terbesar di dunia. Namun, kekayaan itu tak akan berarti jika terus mengalami degradasi. Jika kerusakan dibiarkan, yang hilang bukan hanya ekosistem laut. Yang hilang adalah penghidupan nelayan, ketahanan pangan masyarakat pesisir, dan masa depan ekonomi pulau-pulau kecil.
Menjaga terumbu karang berarti menjaga masa depan ekonomi bangsa. Ia berarti menjaga dapur rumah tangga nelayan, homestay yang tetap berjalan, penyewaan perahu yang berkelanjutan, serta kesejahteraan warga pulau kecil. Coral Triangle Day mengingatkan kita: kekayaan terumbu karang Indonesia adalah sumber kehidupan, bukan sekadar hiasan laut.






