Dokter Forensik Mitra Biddokkes Polda Sulsel di Balik Misi DVI

- Penulis

Minggu, 26 Juli 2026 - 11:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : dr. Denny Mathius bersama Tim Biddokkes Polda Sulsel. (dok. Istimewa)

Foto : dr. Denny Mathius bersama Tim Biddokkes Polda Sulsel. (dok. Istimewa)

MAKASSAR – Temukatata.com, Di balik keberhasilan Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan mengidentifikasi korban bencana maupun kecelakaan massal, ada sosok yang bekerja dalam senyap. Salah satunya adalah dokter spesialis forensik, dr. Denny Mathius, yang selama ini menjadi Dokter Mitra Forensik Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulsel.

Belakangan, dr. Denny kembali terlibat dalam Operasi DVI Polda Sulsel saat mengidentifikasi korban tenggelamnya KLM Nurul Salsa di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar. Bersama tim, ia memastikan setiap proses identifikasi dilakukan secara ilmiah agar identitas korban dapat dipastikan sebelum diserahkan kepada keluarga.

Bagi dr. Denny, tugas dokter forensik bukan sekadar melakukan pemeriksaan terhadap jenazah. Lebih dari itu, profesi tersebut memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan kepastian bagi keluarga korban.

“Setiap jenazah yang datang memiliki identitas yang harus kami temukan. Di balik proses ilmiah itu ada keluarga yang menunggu kepastian. Itu yang selalu menjadi tanggung jawab kami,” ujar dr. Denny saat ditemui di ruang Forensik Dokpol Biddokkes Polda Sulsel, Minggu (26/07/2026).

Ia mengatakan seluruh proses identifikasi dalam Operasi DVI dilakukan berdasarkan standar internasional. Tim akan mencocokkan data antemortem yang diberikan keluarga dengan hasil pemeriksaan postmortem terhadap korban.

“Kami tidak bisa bekerja berdasarkan dugaan. Semua harus berdasarkan data ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Mulai dari ciri fisik, sidik jari, pemeriksaan gigi, hingga DNA jika memang dibutuhkan,” katanya.

Baca Juga :  Wujudkan Kesejahteraan Inklusif, PLN UP Punagaya Gelar CSR Derma Nusantara 2026

Menurutnya, tidak ada ruang untuk kesalahan dalam proses identifikasi.

“Satu identitas yang keliru akan berdampak besar bagi keluarga. Karena itu kami memilih bekerja lebih teliti daripada terburu-buru,” ungkapnya.

Pria yang sehari-hari menjabat sebagai Kepala Instalasi Forensik RSUD Labuang Baji Makassar itu mengaku setiap operasi DVI memiliki tantangan yang berbeda. Kondisi jenazah, lamanya korban ditemukan, hingga faktor cuaca menjadi bagian yang harus dihadapi tim forensik.

“Setiap kasus memiliki tingkat kesulitannya masing-masing. Namun prinsip kami tetap sama, bagaimana setiap korban dapat teridentifikasi dengan benar dan dikembalikan kepada keluarganya,” tuturnya.

Selain menjadi Dokter Mitra Forensik Biddokkes Polda Sulsel, dr. Denny juga bertugas sebagai dokter forensik di RS Bhayangkara Makassar. Pengalaman menangani berbagai kasus pidana, kecelakaan hingga bencana membuatnya memahami bahwa ilmu forensik memiliki peran yang jauh lebih luas dibanding yang dipahami masyarakat.

“Banyak yang mengira dokter forensik hanya melakukan autopsi. Padahal kami juga berperan dalam identifikasi korban bencana, pemeriksaan korban kekerasan, hingga mendukung proses pembuktian hukum,” jelasnya.

Di sela kesibukannya sebagai praktisi forensik, dr. Denny juga aktif sebagai akademisi. Saat ini ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKIP) Makassar dan menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi di Sulawesi Selatan.

Baca Juga :  Polemik PSEL Makassar: Gelombang Penolakan Lokasi di Tamalanrea Terus Meluas

Menurutnya, pengalaman bertugas bersama Tim DVI selalu menjadi bekal berharga saat mengajar mahasiswa kedokteran.

“Apa yang saya temui di lapangan menjadi pengalaman nyata yang saya bagikan kepada mahasiswa. Mereka harus memahami bahwa profesi dokter bukan hanya soal menyembuhkan orang yang hidup, tetapi juga memberikan kepastian bagi mereka yang telah meninggal dunia,” ujarnya.

Ia berharap semakin banyak dokter muda yang tertarik mendalami ilmu kedokteran forensik karena kebutuhan tenaga ahli di bidang tersebut masih cukup besar.

“Forensik adalah bidang yang membutuhkan ketelitian, integritas, dan dedikasi. Mungkin tidak selalu terlihat di depan publik, tetapi manfaatnya sangat besar bagi penegakan hukum dan pelayanan kemanusiaan,” katanya.

Baginya, setiap operasi DVI selalu meninggalkan pengalaman yang berbeda. Namun ada satu tujuan yang tidak pernah berubah.

“Kepuasan terbesar bagi kami bukan ketika identifikasi selesai, tetapi ketika keluarga akhirnya mendapatkan kepastian dan bisa memakamkan orang yang mereka cintai dengan layak. Itu yang membuat pekerjaan ini memiliki nilai kemanusiaan yang sangat tinggi,” pungkas dr. Denny.

Follow WhatsApp Channel temukata.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polda Sulsel Siagakan 1.425 Personel Jelang Aksi Unjuk Rasa
Pelindo-Pelni Gerak Cepat Kirim Bantuan Gempa NTT dari Makassar
Wali Kota Makassar Pimpin Gladi Bersih Upacara HUT ke-81 RI di Lapangan Karebosi
MHM 2026 Beri Dampak Ekonomi Signifikan, Peserta Ditarget 15 Ribu Tahun Depan
12 Mahasiswa KKN Unhas Kecelakaan di Bantaeng, 3 Dirawat
Pemilahan Sampah di RT 04 Tamangapa Libatkan Seluruh Kelompok, Kini Jadi Percontohan
Rumah Ingatan, Ketika Para Seniman Membayangkan Makassar sebagai Panggung Bersama
Semarak Satu Dekade MAPASKA, Menjaga Rindu pada Alam dan Kebudayaan Kajang lewat Mannanro Nakku’

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 09:16 WITA

Polda Sulsel Siagakan 1.425 Personel Jelang Aksi Unjuk Rasa

Jumat, 21 Agustus 2026 - 17:06 WITA

Pelindo-Pelni Gerak Cepat Kirim Bantuan Gempa NTT dari Makassar

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:46 WITA

Wali Kota Makassar Pimpin Gladi Bersih Upacara HUT ke-81 RI di Lapangan Karebosi

Jumat, 14 Agustus 2026 - 17:49 WITA

MHM 2026 Beri Dampak Ekonomi Signifikan, Peserta Ditarget 15 Ribu Tahun Depan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 20:29 WITA

12 Mahasiswa KKN Unhas Kecelakaan di Bantaeng, 3 Dirawat

Berita Terbaru