Rupiah Tertekan di Rp17.849, Pasar Waspada Tren Pelemahan Lanjutan

- Penulis

Kamis, 28 Mei 2026 - 14:16 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rupiah Tertekan di Rp17.849, Pasar Waspada Tren Pelemahan Lanjutan

Jakarta, – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah dan menyentuh level Rp17.849 per USD pada perdagangan hari ini, menurut data Wise dan Bank Indonesia. Level ini menjadi yang terlemah dalam sebulan terakhir, setelah sebelumnya stabil di kisaran Rp17.200-Rp17.849sepanjang mei 2026.

Sejak awal tahun 2026, rupiah telah melemah sekitar 6,9% dari posisi awal tahun di Rp16.691 per USD. Tekanan utama datang dari penguatan dolar AS global, keluarnya dana asing, dan sentimen pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed yang masih tinggi.

Faktor Pemicu Pelemahan

<1. Dolar AS Menguat Global: Investor global kembali memburu aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global.
2. Neraca Perdagangan : Defisit impor yang melebar membuat permintaan dolar meningkat.
3. Capital Outflow : Data pasar menunjukkan arus keluar modal asing dari pasar saham dan SBN.

Baca Juga :  DPD PTI Kaltim Soroti Anjloknya Harga TBS di Tengah Keterbukaan Informasi Industri Sawit

“Level Rp17.800 ini belum masuk zona krisis, tapi jika tren ini berlanjut tanpa intervensi, psikologis pasar bisa terdorong ke Rp18.000,” ujar pengamat pasar uang di Jakarta.

Mungkinkah Tembus Rp20.000?

Secara historis, rupiah terakhir menyentuh Rp20.000 saat krisis moneter 1998. Para analis menilai skenario tembus Rp20.000 saat ini hanya terjadi jika ada guncangan ekstrem seperti resesi global, krisis komoditas, atau gejolak geopolitik besar.

Baca Juga :  Mengungkap Gurita Mafia Tanah di Bali, Hak Waris Lansia Jadi Incaran

Range realistis jangka pendek ada di Rp17.500-Rp18.200. Untuk ke Rp20.000, butuh shock sistemik yang belum terlihat saat ini,” jelas analis.

Adanya Dampak ke Masyarakat dan Pelaku Usaha Pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga barang impor, biaya produksi, dan cicilan utang luar negeri. Di sisi lain, eksportir dan pelaku usaha berorientasi dolar diuntungkan karena pendapatan dalam rupiah meningkat.

Bank Indonesia sejauh ini telah melakukan intervensi di pasar valas dan pasar SBN untuk menjaga stabilitas. Pasar kini menanti rilis data inflasi AS dan keputusan suku bunga The Fed pekan depan sebagai penentu arah rupiah selanjutnya.

Follow WhatsApp Channel temukata.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gala Dinner Raker APEKSI Komwil VI di Kendari dihadiri Wakil Wali kota Makassar
Dewan Pengawas Apresiasi Perumda Parkir Makassar : Sukses Wujudkan Parkir Tertib dan Tarif Resmi di MHM 2026
DPD PTI Kaltim Soroti Anjloknya Harga TBS di Tengah Keterbukaan Informasi Industri Sawit
BINUS, IPNU, dan RW 01 Buloa Kolaborasi Tebar Kepedulian Melalui Kurban Iduladha
Terpilih Secara Aklamasi, Andi Rahmat Manggabarani Nahkodai GEKRAFS SULSEL
Kunjungi PLTU Punagaya, Direksi PLN Dorong Penguatan Energi Sulawesi
Dugaan Masok 40Kg Narkoba di Lapas Bollangi, Mahasiswa Dipukul Mundur Petugas
Ketua DPW PBB SULSEL telah menerima SK dari PJ Ketum PBB Yuri Kemal Fadhlullah

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 14:03 WITA

Gala Dinner Raker APEKSI Komwil VI di Kendari dihadiri Wakil Wali kota Makassar

Selasa, 2 Juni 2026 - 15:19 WITA

Dewan Pengawas Apresiasi Perumda Parkir Makassar : Sukses Wujudkan Parkir Tertib dan Tarif Resmi di MHM 2026

Minggu, 31 Mei 2026 - 15:38 WITA

DPD PTI Kaltim Soroti Anjloknya Harga TBS di Tengah Keterbukaan Informasi Industri Sawit

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:11 WITA

BINUS, IPNU, dan RW 01 Buloa Kolaborasi Tebar Kepedulian Melalui Kurban Iduladha

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:05 WITA

Terpilih Secara Aklamasi, Andi Rahmat Manggabarani Nahkodai GEKRAFS SULSEL

Berita Terbaru