Temukata.com, Selayar – Program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat dari Ristekdikti yang dimotori oleh dosen Universitas Fajar (Unifa) Makassar kembali menorehkan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Kali ini, tim dosen Unifa menggelar pelatihan strategis bertajuk “Manajemen Produksi Kunyit Bubuk dari Rimpang Segar Menjadi Produk Bernilai Tinggi.” Langkah ini diambil untuk mendorong geliat pelaku UMKM dan masyarakat lokal agar mampu menangkap peluang bisnis dari kekayaan rempah Nusantara yang melimpah.
Kegiatan produktif ini dinakhodai oleh Dr. Hj. Rosnaini Daga, SE., MM selaku Ketua Tim Pengabdian, didampingi dua anggota tim yang kompeten di bidangnya, yaitu Dr. Sri Adrianti Muin, SE., MM dan Dr. Andi Vita Sukmarini, S.I.Kom., M.I.Kom.
Untuk memastikan transfer ilmu berjalan aplikatif, tim Unifa turut menggandeng praktisi berpengalaman, AKBP (Purn) Drs. Dg Singai, MM, yang mengupas tuntas materi praktik serta teknis produksi langsung di hadapan para peserta.
Selama pelatihan, para peserta diajak untuk membuka mata terhadap prospek ekonomi kunyit bubuk yang sangat menjanjikan di pasar modern.
Komoditas ini tidak lagi sekadar menjadi bumbu dapur konvensional, melainkan telah bertransformasi menjadi bahan baku utama yang diburu oleh industri makanan, minuman herbal, kosmetik, hingga sektor farmasi. Potensi pasar yang luas inilah yang melatarbelakangi tim pengabdian Unifa untuk memfasilitasi peningkatan kapasitas produksi masyarakat.
Ketua Tim Pengabdian, Dr. Hj. Rosnaini Daga, SE., MM menegaskan bahwa mengubah kunyit segar menjadi bentuk bubuk merupakan terobosan cerdas untuk mendongkrak nilai tambah produk pertanian lokal.
Melalui edukasi ini, pihak kampus ingin menanamkan pola pikir inovatif agar masyarakat tidak lagi terpaku menjual hasil panen dalam bentuk mentah yang harganya cenderung fluktuatif.
Dengan pengolahan yang tepat, kunyit akan memiliki daya saing yang jauh lebih kuat di pasar, memperpanjang masa simpan, mempermudah proses distribusi, serta menjadi keran penghasilan baru bagi skala rumah tangga maupun UMKM.
Agar usaha ini berjalan berkelanjutan, para peserta tidak hanya diajarkan cara mengolah, tetapi juga dibekali dengan fondasi manajemen produksi yang kuat.
Materi yang disajikan mencakup keseluruhan siklus usaha, mulai dari tahap perencanaan yang matang, pengorganisasian, pelaksanaan di lapangan, hingga sistem pengendalian mutu produk demi menjaga kepercayaan konsumen.
Menelisik aspek teknis, AKBP (Purn) Drs. Dg Singai, MM selaku narasumber menekankan bahwa kunci utama dari produk kunyit bubuk yang premium terletak pada seleksi ketat bahan bakunya.
Kunyit yang ideal harus dipanen pada usia optimal, yakni antara 8 hingga 12 bulan, ditandai dengan warna oranye cerah yang pekat, aroma khas yang kuat, serta dipastikan bebas dari jamur maupun pembusukan.
Standar baku yang disiplin ini menjadi penentu mutlak kualitas akhir produk di pasaran.
Masyarakat pun dipandu secara mendetail melewati setiap tahapan produksi, yang meliputi penerimaan bahan baku, sortasi, pencucian, pengirisan, pengeringan, penggilingan, pengayakan, hingga teknik pengemasan yang higienis.
Dari seluruh rangkaian tersebut, proses pengeringan menjadi fase paling krusial. Pengeringan dapat dilakukan secara alami memanfaatkan sinar matahari selama dua hingga empat hari, atau menggunakan mesin oven dengan suhu stabil 50 hingga 60 derajat Celsius selama delapan hingga 12 jam. Untuk mempercepat proses tersebut, ketebalan irisan kunyit harus dijaga ideal pada ukuran dua hingga tiga milimeter agar keringnya merata dan hasilnya optimal.
Sisi finansial dan kalkulasi bisnis pun tidak luput dari pembahasan. Tim pengabdian Unifa memberikan simulasi riil mengenai efisiensi produksi, perhitungan harga pokok produksi (HPP), hingga penyusunan rencana bisnis yang konkret.
Sebagai gambaran matematis bagi pelaku usaha, dari 10 kilogram kunyit segar yang diolah, nantinya akan menyusut menjadi sekitar 1,5 hingga 2 kilogram kunyit kering, yang pada akhirnya menghasilkan sekitar 1,2 hingga 1,8 kilogram kunyit bubuk siap kemas dan siap jual.
Memasuki hari ketiga pelaksanaan, atmosfer pelatihan masih dipenuhi antusiasme tinggi dari para peserta. Lewat sinergi akademisi dan praktisi ini, program hibah Ristekdikti dan Unifa diharapkan mampu melahirkan bibit-bibit wirausaha baru yang terampil, mandiri, serta mampu menggerakkan roda ekonomi daerah berbasis optimalisasi pangan lokal.






