Jelang Musda KNPI Sinjai, Rahim Tantang Calon Ketua: “Jangan Datang Cari Jabatan, Kalau Tak Siap Kerja untuk Pemuda”
SINJAI — Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) DPD KNPI Kabupaten Sinjai periode 2026–2029, dinamika organisasi kepemudaan mulai memanas. Sejumlah figur calon ketua mulai bermunculan dan mulai membangun komunikasi politik di berbagai kalangan pemuda. Musda KNPI kali ini dipandang bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum penting untuk menentukan arah gerakan pemuda Sinjai ke depan.
Di tengah situasi tersebut, Rahim, tokoh muda Desa Biroro, Kecamatan Sinjai Timur, angkat bicara dan menantang seluruh calon Ketua KNPI Sinjai agar tidak sekadar hadir membawa ambisi kekuasaan organisasi tanpa gagasan dan kerja nyata untuk masyarakat.

“Jangan datang maju hanya karena ingin jabatan atau dikenal publik. Kalau tidak siap bekerja untuk pemuda dan masyarakat, lebih baik jangan ikut bertarung di KNPI,” tegas Rahim, Selasa (26/5/2026).
Rahim menilai dinamika kepemudaan di Sinjai selama ini terlalu sering berhenti pada pertarungan elit organisasi. Menurutnya, tidak salah jika organisasi memiliki dinamika elit dan pertarungan gagasan di tingkat pimpinan, selama orientasinya tetap melahirkan dampak nyata bagi pemuda. Namun yang menjadi persoalan, energi organisasi justru habis pada perebutan pengaruh, posisi, dan kepentingan kelompok semata.
“Menurut saya, menjadi elitis dalam organisasi sebenarnya bukan sesuatu yang salah, selama orientasinya tetap untuk melahirkan dampak nyata bagi pemuda dan masyarakat. Problemnya, dinamika pemuda di Sinjai sering berhenti hanya pada pertarungan elit itu sendiri,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut membuat banyak anak muda di akar rumput mulai kehilangan ruang gerak dan merasa jauh dari organisasi kepemudaan. Padahal, pemuda hari ini membutuhkan wadah yang mampu menjawab persoalan nyata, mulai dari lapangan kerja, pengembangan kreativitas, literasi digital, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
“Pemuda hari ini tidak butuh janji dan baliho. Yang dibutuhkan adalah keberanian, ide, dan kerja nyata. KNPI harus kembali menjadi rumah besar pemuda sampai ke desa,” katanya.
Rahim juga menyoroti masih minimnya perhatian terhadap anak-anak muda yang bergerak langsung di tengah masyarakat meski tidak berada dalam lingkaran organisasi formal. Menurutnya, banyak pemuda di Sinjai yang sesungguhnya telah menghadirkan dampak sosial dan ekonomi nyata, tetapi belum mendapat dukungan dan apresiasi yang layak.
Ia mencontohkan sosok Ramli di Sinjai Barat yang selama ini konsisten bergerak dalam pemberdayaan kopi lokal. Menurut Rahim, perjuangan tersebut bukan sekadar aktivitas usaha biasa, tetapi bagian dari gerakan pemberdayaan pemuda desa yang berdampak langsung pada masyarakat sekitar.
“Selama ini Kak Ramli seperti bergerak sendiri membangun potensi kopi lokal. Padahal dampaknya besar bagi anak muda di Sinjai Barat. Ruang-ruang seperti ini seharusnya mendapat perhatian serius dari organisasi kepemudaan,” ujarnya.
Selain itu, Rahim juga menyinggung sosok Ahmad Sidiq di Sinjai Selatan. Lulusan Teknik Informatika Universitas Negeri Makassar (UNM) itu memilih kembali ke kampung dan mengelola pertanian semangka dengan memanfaatkan lahan tidur di Bikeru dan sekitarnya. Langkah tersebut dinilai Rahim sebagai bentuk keberanian anak muda dalam menciptakan ruang ekonomi produktif di desa.
“Ahmad Sidiq ini contoh anak muda yang berani melawan arus. Dia lulusan teknik informatika, tapi memilih kembali mengelola pertanian dan membuka peluang kerja bagi pemuda di sekitarnya. Gerakan seperti ini seharusnya menjadi inspirasi,” katanya.
Menurut Rahim, selama ini ukuran “pemuda aktif” sering kali hanya dilekatkan kepada mereka yang aktif di organisasi formal atau tergabung dalam OKP di bawah KNPI. Padahal, pemuda yang bergerak di sektor pertanian, UMKM, ekonomi kreatif, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat juga merupakan bagian penting dari kekuatan perubahan daerah.
Ia mengingatkan agar KNPI tidak kehilangan fungsinya sebagai wadah persatuan pemuda lintas organisasi dan komunitas. Jika organisasi hanya menjadi ruang berkumpul elit tertentu, maka apatisme di kalangan anak muda akan semakin besar.
“Kalau KNPI hanya jadi tempat kumpul elit organisasi, maka pemuda di bawah akan makin apatis. Ketua KNPI ke depan harus berani turun langsung melihat persoalan masyarakat,” tambahnya.
Menjelang Musda KNPI Sinjai, Rahim berharap seluruh calon ketua mampu membawa gagasan yang lebih membumi dan relevan dengan kebutuhan zaman. Ia menegaskan bahwa orientasi gerakan pemuda harus bergeser dari sekadar simbol dan perebutan posisi menuju kerja nyata dan kebermanfaatan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Sudah saatnya cara pandang terhadap gerakan pemuda diperluas. Pemuda tidak boleh hanya diukur dari jabatan organisasi dan aktivitas seremonial, tetapi dari sejauh mana mereka mampu menciptakan dampak dan menghadirkan harapan bagi masyarakat,” tutupnya.






